Sinau = Belajar
Belajar, ketika pertama kali kita mendengarnya, apakah yang
kita rasakan? Dalam hal apa dulu.... Belajar sepeda? Belajar gitar? Nah, bagi yang bisa speaking on javanesse, pasti ngeh, kata sinau itu mengarah ke mana. Yap, dalam
tulisan kali ini yang saya maksud adalah Belajar di sekolah, atau kuliah
(intinya adalah, pendidikan formal). So, what do you feel now? Bersemangat?
Bosan? Malas? atau ya....biasa saja. Rutinitas. Yang lain sekolah, masak saya
tidak. Bakal ketinggalan ntar.
Saya bersyukur dapat melanjutkan studi hingga jenjang
perguruan tinggi. Kata seorang senior, kita semua harus bertanggung jawab
ketika menjadi mahasiswa karena dalam setian fasilitas yang kita miliki
mengalir uang rakyat dari pajak yang mereka bayarkan. Such an idealism. Meski ademikian,
tetap saja, kesibukan kuliah dan sebagainya membuat itu semua terasa hanya
rutinitas.
Ternyata benar, kenyamanan adalah ujian yang paling berat. Karena
hal tersebut seringkali membuat kita terlena.
Saatnya kita menata diri kembali. Tenggelam dalam rutunitas,
seringkali membuat kita berlari tanpa arah dan semangat yang jelas. Dalam
sebuah wawancara antara utusan Palestina dengan seorang penyiar radio ketika
berkunjung ke Surabaya, penyiar tersebut bertanya,
“Mengapa para pelajar di Palestina terus bersemangat belajar
padahal situasi di sana tak aman dan berada dalam tekanan?”
Utusan tersebut menjawab, “Ini adalah bentuk mujahadah kami
kepada Allah, sekaligus bentuk perjuangan kami melawan penjajah Israel. Mereka
menrobohkan sekolah kami, kami pindah, mereka hancurkan lagi, kami pindah lagi.
Kami tak akan menyerah.”
Dalam kesempatan lain, utusan Indonesia yang berkunjung ke
sana bertanya, “Mengapa kalian begitu bersemangat melahirkan para penghafal
Al-Qur’an sedangkan kondisi di sini begitu tak aman?”
Jawab warga Palestina, “Agar suatu saat ketika kami
benar-benar merdeka kelak, kita memiliki wali kota yang hafal Al-Qur’an, dan
bahkan hingga RT RW (dalam istilah kita) yang hafal Al-Qur’an.”
It’s very cool, isn’t it?
That was our problem. We are lost of our orientation. Lupa,
untuk apa kita belajar.
Indonesia, tak dijajah secara fisik, tapi ideologis, gaya
hidup, dan segalanya. Kapitalisme, liberalisme, dan banyak lainnya. Kita semua
tahu, tapi mungkin lupa. Plus terlena. Lengkap.
Saatnya membangkitkan semangat lagi. Mencermati kembali
kondisi kita, mengingat kembali mimpi-mimpi yang sempat terlupa, dan menata
kembali semangat yang terserak. Demi masa t, bangsa, dan negara. Tentunya yang utama,
sebagai bentuk mujahadah kita padaNya. Karena, sejauh ini, itulah hal utama yang
kita bisa.
We are always on our thought
and doubt but life must go on. The future holds hope, reach for it... Just try, again and again. Then you’ll find a
happy ending. If itsn’t, so it is not an ending yet.
Fighto.... the size of your success depens the depth of your
desire. Do it, Lillahita’ala....
Lumajang, 6/9/20012
Ketika mengigat saat2
mengalami disorientasi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar