There are dreams we turn towards, while reaching out to others
Clench your teeth and lift your chin up
“Screw this! I’m not losing!” Steel your heart
And move forward little by little
(GreeeeN, Ayumi)
Mengenang
kembali lima tahun perjalanan di Farmasi, sama dengan memutar
kembali kenangan atas berbagai mimpi yang pernah terlintas. Terbayang segenap
langkah untuk merentasnya untuk menjadi nyata. Meski ternyata, tak semua dapat
terlaksana sempurna, sesuai harapan.
Saat ini,
adalah waktu dimana mahasiswa yang aktif
dalam perkuliahan memasuki semester baru. Awal semester ganjil yang karena
beberapa alasan, lebih berat dari awal semester genap. Karena secara umum,
banyak hal baru yang dimulai dari semester ini. Ada maba, awal profesi, awal
mengerjakan skripsi, and many others thing. Lalu kita mulai menata kembali visi
kita dalam berkuliah. Mulai menetapkan target, mulai menata diri, melist amanah yang masih berada dalam
tanggung jawab, atau kemudian mengira2 amanah apakah yang kemungkinan akan
dibebankan.
Berbagai hal
menjadi pertimbangan, tak mungkin dielakkan salah satunya adalah IPK kita
sebelumnya (ups, masalah sensitif ini..). Teringat nasihat salah seorang
murabbi dulu. Bahwa janganlah kita menjadikan masalah IPK dan akademis sebagai
alasan kita dalam berdakwah. Maksudnya adalah, menjadi alasan kita untuk mundur
atau cuti dalam dakwah. Ketika itu, saya mendengar saja, tak setuju, tapi tak
pula mendebat. Cerita bergulir, bla, bla, bla.
Di lain waktu
saya mendengarkan cerita dari seorang ustad mengenai pergerakan dakwah
mahasiswa ketika itu. Beliau memiliki seorang kawan, yang kala itu menjadi
murabbi 5 kelompok liqo (semoga tidak salah jumlahnya, intinya adalah lebih
dari 3 kelompok, hehe). Nah lalu kemudian, faktanya, skripsi yang beliau
kerjakan terlihat seolah tak selesai selesai. Lalu murabbi beliau bertanya,
mengenai kondisi akademis beliau dan amanah yang dimiliki. Aktivis menjawab,
“Tidak masalah Ustad, saya masih kuat.....” Berkali kali seperti itu saja
jawaban si aktivis. Hingga suatu ketika sang murabbi memberi perintah, “Sudah,
transfer semua binaan antum, amanah antum sekarang adalah menyelesaikan
penelitian dan segera lulus.” Dan tahukan Kawan, siapakah aktivis dalam cerita
diatas? Beliau adalah Menristek pada awal pemerintahan SBY pada putaran kedua.
Di lain
episode kajian, melihat minimnya peserta, Ustad tersebut kemudian bercerita.
Sekarang, amanah dakwah kita (amanah yang dimaksud adalah mentoring yang kita
pegang, red) adalah “hanya” dalam radius fakultas, kampus, atau paling luas
universitas. Kalau dulu, si A pegang wilayah Jawa Timur, B Bali, C Jawa Tengah,
dan seterusnya. Lalu beliau menambahkan, teman saya, memegang 7 halaqah,
padahal beliau menjalani studi di Fakultas Farmasi. Coba tebak siapakah itu
yang diceritakan? Beliau adalah ustad Cahyadi Takariawan. Subhanallah.
Tendensi saya
menulis hal ini, bukanlah untuk kemudian menberi persuasi agar kita jor-joran
dalam hal dakwah dan menomor duakan kuliah, bukan...bukan itu. Dakwah adalah
yang UTAMA dan kuliah adalah yang PERTAMA. Setuju??
Kenyataannya,
kita tidak menghadapi kondisi ekstrim sebagaimana yang dihadapi aktivis yang
menjadi tokoh dalam cerita di atas. Kita hanya memegang 1-3 mentoring/ halaqah.
Dan itu disini disini saja. Binaan kita satu fakultas, satu kampus, paling jauh
satu universitas. IPK?? Tak buruk sekali sebenarnya. Tapi fenomenanya, kita
lalu berencana untuk mundur, atau berencana untuk tak memegang mentoring lagi.
Alasannya? Konsentrasi kuliah, konsentrasi mengerjakan skripsi..... benarkah?
Yang sudah
sudah, tak jarang, ternyata hal itu kemudian membawa kita pada waktu luang yang
terbentang makin lebar, yang mengakibatkan kita terlena....
Kita sendiri
dapat mengukur kemampuan kita, dan dengannya kita azzamkan untuk berusaha lebih
agar tetap bertahan dalam amanah dakwah dan kuliah, yang karenanya, memang akan
membawa kita pada kondisi tertekan (baca: tertantang). Dan kalau kita sadari,
itulah yang akan membuat kita dekat dengan Sang Pemberi Kekuatan dan Kemudahan.
Kita berada dalam ujung kapabilitas kita, karenanya kita memohon bantuan untuk
senantiasa diberi kemudahan.
Kita punya
target dan strategi dalam kuliah. Boleh dong kita punya strategi dalam
berdakwah? Harus malah. Kita ukur waktu dan kemampuan kita. Misal nih, skripsi,
harus ngelab, harus begini begitu. Lalu kemudian kita berstrategi. Okelah,
kondisi seperti ini tak bisa kalau saya diamanahi jadi pengurus aktif.
Kemungkinan besar, amanah terbengkalai, akan ada yang terdzolimi. Kita memutuskan
untuk tidak aktif di organisasi, sebagai gantinya, kita menambah porsi binaan
yang kita pegang. Seperti itulah, contohnya. Hanya contoh, silahkan dikresasi
sesuai selera....
Kenapa
demikian? Karena jangan sampai pada masa genting kita di perkuliahan (masa
skripsi, profesi, etc) kita justru keberkahan kita berkurang atau justru
menghilang, yang karenanya berkurang atau menghilang pula jatah kemudahan dari
Allah untuk kita.
Banyak teori
dan kata mutiara untuk meraih mimpi kita. Namun sejauh ini, bagi saya pribadi,
yang paling ampuh adalah mengetahui apa yang ingin kita raih, memulai upaya,
bertahan, dan menumpukan setiap upaya kita pada Allah ta’ala, karena
benar-benar hanya Dialah yang dapat membawa mimpi itu menjadi nyata. Intinya
adalah tiga hal: usaha,
tekad, dan doa, karena hanya cintaNya, yang mampu membuat kita
tetap BERTAHAN, di saat yang
lain TERKAPAR. Lalu semua akan
menjadi indah pada waktunya.... J. Just remember that it’s always a happy ending.
If itsn’t, so it is not an ending yet, Ganbatte!!!
turning sadness into kindness,
your uniqueness into strength,
it’s okay to get lost
your uniqueness into strength,
it’s okay to get lost
so begin walking
once again, once again
once again, once again
(Little by little, OST
Naruto)
Surabaya, 29/08/12
Saat salah satu mimpi mulai merangkak
ke alam nyata

Tidak ada komentar:
Posting Komentar