Jumat, 31 Agustus 2012

Jangan “Hanya” karena IPK



We’re all lost in our thoughts, bearing various obligations
There are dreams we turn towards, while reaching out to others
Clench your teeth and lift your chin up
“Screw this! I’m not losing!” Steel your heart
And move forward little by little

(GreeeeN, Ayumi)

Mengenang kembali lima tahun perjalanan di Farmasi, sama dengan memutar kembali kenangan atas berbagai mimpi yang pernah terlintas. Terbayang segenap langkah untuk merentasnya untuk menjadi nyata. Meski ternyata, tak semua dapat terlaksana sempurna, sesuai harapan.

Saat ini, adalah  waktu dimana mahasiswa yang aktif dalam perkuliahan memasuki semester baru. Awal semester ganjil yang karena beberapa alasan, lebih berat dari awal semester genap. Karena secara umum, banyak hal baru yang dimulai dari semester ini. Ada maba, awal profesi, awal mengerjakan skripsi, and many others thing. Lalu kita mulai menata kembali visi kita dalam berkuliah. Mulai menetapkan target, mulai menata diri, melist amanah yang masih berada dalam tanggung jawab, atau kemudian mengira2 amanah apakah yang kemungkinan akan dibebankan. 

Berbagai hal menjadi pertimbangan, tak mungkin dielakkan salah satunya adalah IPK kita sebelumnya (ups, masalah sensitif ini..). Teringat nasihat salah seorang murabbi dulu. Bahwa janganlah kita menjadikan masalah IPK dan akademis sebagai alasan kita dalam berdakwah. Maksudnya adalah, menjadi alasan kita untuk mundur atau cuti dalam dakwah. Ketika itu, saya mendengar saja, tak setuju, tapi tak pula mendebat. Cerita bergulir, bla, bla, bla.

Di lain waktu saya mendengarkan cerita dari seorang ustad mengenai pergerakan dakwah mahasiswa ketika itu. Beliau memiliki seorang kawan, yang kala itu menjadi murabbi 5 kelompok liqo (semoga tidak salah jumlahnya, intinya adalah lebih dari 3 kelompok, hehe). Nah lalu kemudian, faktanya, skripsi yang beliau kerjakan terlihat seolah tak selesai selesai. Lalu murabbi beliau bertanya, mengenai kondisi akademis beliau dan amanah yang dimiliki. Aktivis menjawab, “Tidak masalah Ustad, saya masih kuat.....” Berkali kali seperti itu saja jawaban si aktivis. Hingga suatu ketika sang murabbi memberi perintah, “Sudah, transfer semua binaan antum, amanah antum sekarang adalah menyelesaikan penelitian dan segera lulus.” Dan tahukan Kawan, siapakah aktivis dalam cerita diatas? Beliau adalah Menristek pada awal pemerintahan SBY pada putaran kedua.

Di lain episode kajian, melihat minimnya peserta, Ustad tersebut kemudian bercerita. Sekarang, amanah dakwah kita (amanah yang dimaksud adalah mentoring yang kita pegang, red) adalah “hanya” dalam radius fakultas, kampus, atau paling luas universitas. Kalau dulu, si A pegang wilayah Jawa Timur, B Bali, C Jawa Tengah, dan seterusnya. Lalu beliau menambahkan, teman saya, memegang 7 halaqah, padahal beliau menjalani studi di Fakultas Farmasi. Coba tebak siapakah itu yang diceritakan? Beliau adalah ustad Cahyadi Takariawan. Subhanallah.

Tendensi saya menulis hal ini, bukanlah untuk kemudian menberi persuasi agar kita jor-joran dalam hal dakwah dan menomor duakan kuliah, bukan...bukan itu. Dakwah adalah yang UTAMA dan kuliah adalah yang PERTAMA. Setuju??

Kenyataannya, kita tidak menghadapi kondisi ekstrim sebagaimana yang dihadapi aktivis yang menjadi tokoh dalam cerita di atas. Kita hanya memegang 1-3 mentoring/ halaqah. Dan itu disini disini saja. Binaan kita satu fakultas, satu kampus, paling jauh satu universitas. IPK?? Tak buruk sekali sebenarnya. Tapi fenomenanya, kita lalu berencana untuk mundur, atau berencana untuk tak memegang mentoring lagi. Alasannya? Konsentrasi kuliah, konsentrasi mengerjakan skripsi..... benarkah?

Yang sudah sudah, tak jarang, ternyata hal itu kemudian membawa kita pada waktu luang yang terbentang makin lebar, yang mengakibatkan kita terlena....

Kita sendiri dapat mengukur kemampuan kita, dan dengannya kita azzamkan untuk berusaha lebih agar tetap bertahan dalam amanah dakwah dan kuliah, yang karenanya, memang akan membawa kita pada kondisi tertekan (baca: tertantang). Dan kalau kita sadari, itulah yang akan membuat kita dekat dengan Sang Pemberi Kekuatan dan Kemudahan. Kita berada dalam ujung kapabilitas kita, karenanya kita memohon bantuan untuk senantiasa diberi kemudahan.


 Kita punya target dan strategi dalam kuliah. Boleh dong kita punya strategi dalam berdakwah? Harus malah. Kita ukur waktu dan kemampuan kita. Misal nih, skripsi, harus ngelab, harus begini begitu. Lalu kemudian kita berstrategi. Okelah, kondisi seperti ini tak bisa kalau saya diamanahi jadi pengurus aktif. Kemungkinan besar, amanah terbengkalai, akan ada yang terdzolimi. Kita memutuskan untuk tidak aktif di organisasi, sebagai gantinya, kita menambah porsi binaan yang kita pegang. Seperti itulah, contohnya. Hanya contoh, silahkan dikresasi sesuai selera.... 

Kenapa demikian? Karena jangan sampai pada masa genting kita di perkuliahan (masa skripsi, profesi, etc) kita justru keberkahan kita berkurang atau justru menghilang, yang karenanya berkurang atau menghilang pula jatah kemudahan dari Allah untuk kita.

Banyak teori dan kata mutiara untuk meraih mimpi kita. Namun sejauh ini, bagi saya pribadi, yang paling ampuh adalah mengetahui apa yang ingin kita raih, memulai upaya, bertahan, dan menumpukan setiap upaya kita pada Allah ta’ala, karena benar-benar hanya Dialah yang dapat membawa mimpi itu menjadi nyata. Intinya adalah tiga hal: usaha, tekad, dan doa, karena hanya cintaNya, yang mampu membuat kita tetap BERTAHAN, di saat yang lain TERKAPAR. Lalu semua akan menjadi indah pada waktunya.... J. Just remember that it’s always a happy ending. If itsn’t, so it is not an ending yet, Ganbatte!!!

turning sadness into kindness,
your uniqueness into strengt
h,

it’s okay to get lost
so begin walking
once again, once again 
(Little by little, OST Naruto)
Surabaya, 29/08/12
Saat salah satu mimpi mulai merangkak ke alam nyata


Tidak ada komentar:

Posting Komentar